/Museum Bapak Republik Tan Malaka Terbengkalai

Museum Bapak Republik Tan Malaka Terbengkalai

Seminggu setelah kemerdekaan republik indonesia di ploklamirkan, Desas desus soekarno-hatta sebagai war criminal, penjahat perang dipropagandakan oleh inggris sebagai upaya inggris untuk menangkap dan mengadili soekarno-hatta kemahkamah internasional karena telah membantu sekutu, jepang dalam menciptakan perang dunia kedua.

Menyikapi itu soekarno menulis wasiat kalau tiada berdaya lagi, maka mereka, Soekarno-Hatta akan menyerahkan pimpinan revolusi itu kepada Tan Malaka. Demikianlah kesimpulan wasiat dari proklamator republik Indonesia menurut  Mr.Soebarjo, Menteri Urusan Luar Negeri saat itu. Namun hatta meminta soekarno mengkoreksi dan menambahkan Sjahrir, Iwa Kusumasumantri dan Wongsonegoro kedalam wasiat itu.

Mengapa Tan Malaka begitu istimewa?

Tan malaka memiliki pemikiran yang jauh kemasa depan. Dia adalah seorang pejuang. Polyglot. Menguasai Bahasa belanda, inggris, jerman, mandarin sampai tagalog. Tan Malaka adalah seorang pejuang yang keluar masuk penjara. Diburu dan di intai polisi internasional. Mengembara dari satu negara kenegara berikutnya. Dari belanda, jerman, Rusia, Filipina, Thailand, Burma, China, Malaysia, dan Singapura. Tiada alasan lain selain mewujudkan Indonesia merdeka tapi karena itu pulalah dia dikejar dan diburu.

Tan Malaka dikenal sebagai bapak republik kerena beliaulah yang pertama kali mencetuskan buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Indonesia Merdeka) 20 tahun sebelum republik indonesia merdeka. Melalui bukunya itu para pejuang ditanah air semakin bergelora dan mengadosi buku-buku pergerakan Tan Malaka lainnya seperti masa aksi. Bahkan soekarno sekalipun membaca dan mengejahwantahkannya.

Sejatinya Tan Malaka adalah Ibrahim datuk dari raja adat bungo setangkai sumatera barat yang  membawahi tiga kenegarian yakni; suliki, kurai, pandam gadang. Membawahi 4 datuk pucuk adat serta 141 datuk suku adat. Tan Malaka yang dianggap sebagai seorang komunis ini adalah seorang anak minang yang belajar dan hobi bersilat di tepi halaman surau. Tan Malaka pernah menantang thesis lenin yang mengatakan bahwa komunisme perlu melakukan perjuangan melawan gerakan islamisme. Berbeda dengan Tan Malaka, Sebagai komitren asia tenggara Tan Malaka berpidato pada konggres komunis internasional keempat dengan dalil bahwa sudah saatnya komunisme bekerja dengan pan-islamisme bukan dengan cara memboikot.

Penyebab gagalnya pemberontakan komunis pada tahun 1926 yang kepada hindia belanda adalah Tan Malaka. Musso petinggi partai komunis Indonesia mengatakan bahwa kegagalan pemberontak itu adalah karena Tan Malaka, Tan Malaka dari manila mengirim surat kepada beberapa cabang didaerah bahwa tidak setuju dengan pemberontakan itu. Pun pada pemberontakan PKI di madiun tahun 1948 penyebab gagalnya kata DN. Aidit adalah karena Tan Malaka. Hingga pada akhirnya di PKI sendiri Tan Malaka dicaci dan disingkirkan sampai kemudian Tan Malaka mendirikan Partai sendiri, Partai Murba-Musyawarah Besar.

Disuatu kesempatan Tan Malaka dekat dengan pan-islamisme. Dikesempatan berikutnya Tan Malaka dikatakan komunis. Menurut Harry Foeze, Peneliti Tan Malaka “Melihat itu semua, saya melihat Tan Malaka seorang yang 50 persen Islam dan 50 persen Marxis, jadi Tan Malaka tidak 100 persen Marxis juga tidak 100 persen Islam”. Demikian pulalah disuatu kesempatan Tan Malaka sendiri mengatakan bahwa “ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia”.

Sebagai orang minang, Tan Malaka adalah seorang datuk yang telah disumpah sembah. Adat dan keyakinan adalah urat hati yang tidak dapat dicabut. Sedangkan sebagai seorang pejuang Tan Malaka adalah seorang marxisme. Pemikiran dan Gerakannya adalah adalah bagian otak dari marxisme. Namun berdasarkan kenyataannya, Tan Malaka tetaplah dikuburkan sebagai seorang muslim.

Disuatu kesempatan dari kota bertuah, pekanbaru. penulis mencoba mengaliri canggihnya lekak lekuk kelok Sembilan yang diapit rimbunya perbukitan. Dari sana terus mengalir sampai ke membelah indahnya lembah harau. Terus mengalir menuju pandam gadang, suluki, limah puluh kota. Jalanan yang berlika-liku menanjak menurun. Dipinggir kanan kiri terbentang sawah yang mengihijau. Dikiri kanan menjulang perbukitan. Suasana kampung yang sejuk dan beraroma penulis nikmati sepanjang perjalanan.

Setibanya dimuseum Tan Malaka. Penulis seakan tidak dapat berkata apa-apa karena museum Tan Malaka itu sendiri adalah rumah Tan Malaka dulu. Tempat Tan Malaka tidur sebelum tidur disurau. Tempat Tan Malaka berteduh Bersama kedua ayahanda dan ibunda tercinta. Tempat dimana Tan Malaka dihormati dan dihargai sebagai Ibrahim Datuk Tan Malaka. Disana juga ada sebuah patung yang dikenang untuk Tan malaka serta ada tiga makam. Makam ayahanda dan makam ibunda. Serta ditengah-tengahnya adalah makam simbolis dari tanah pemakaman Tan Malaka yang berada di Jawa Timur.

Museum yang dikelilingi kelapa yang tumbuh subur itu terkunci rapat. Tidak ada siapa-siapa. Dari jendela yang terbuka. Penulis berusaha mengintip sejenak. Tidak ada yang istimewa dari pengelolahan museum Tan Malaka selain aura kecintaan Tan Malaka terhadap republik Indonesia terasa sangat kuat. Dibawah museum, sisa-sisa serpihan kayu lapuk teronggok. Museum Tan Malaka tidak seutuh museum Bung Hatta di Bukit Tinggi atau museum Buya Hamka di Maninjau.

Dalam hati penulis berbisik bukan saja namanya yang sempat terlupakan tetapi juga rumahnya yang kini menjadi museum yang terbengkalai? Seperti tidak diperdulikan dan seperti tidak ada perlengkapan karya-karyanya yang dipajang bak perpustakaan yang tertata rapi. Tidak ada gambar-gambar yang bergelantungan selain hanya satu atau dua lembar gambar yang terpajang. Demikian pula dengan lemari tua dan kerongkeng tua yang tidak terawat, selebihnya hampa. Seperti tidak ada niat untuk mewariskan semangat Tan Malaka yang namanya sempat dikubur sejarah tetapi diangkat kembali oleh langit. Menyaksikan itu semua, penulis sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi tentang museum Bapak Republik Tan Malaka yang terbengkalai? Semoga saja penulis salah. Dan kita sumua masih menyisahkan sedikit kepedulian dibalik kesedihan kehidupan.