/Jangan Tanya Kapan Menikah Karna Aku Juga Punya Hati Dan Perasaan

Jangan Tanya Kapan Menikah Karna Aku Juga Punya Hati Dan Perasaan

“Jika kau tanya kapan menikah? Maka aku lebih memilih mengungkapkan bahwa setiap orang ingin menikah, lantas mengapa aku masih sendiri?. Barangkali jodohku masih memantaskan diri atau boleh jadi aku sendirilah yang masih berusaha memantaskan diri karna kurangnya rasa sabar dan sujudku disepertiga malam”

(Gambar/via pinterest)

“Dan sungguh aku pernah membayangkan menjalani kehidupan ini dengan seorang kekasih halalku. Menikmati semangkok bubur dan secangkir teh di pagi hari. Bergandengan tangan di taman atau berselfie ria ditepi pantai. Dan ada kalanya bersalah paham dan bertengkar”.

“aku dapat membayangkan itu semua dan jujur aku sudah mempersiapkan diri bagaimana seharusnya bila bertengkar atau bersalahpaham dengan kekasih halalku. Aku belajar dan membaca tulisan tentang pernikahan dan rumah tangga. Bukan sekedar itu saja, aku juga mendengarkan curhatan serta nasihat dari sahabatku yang sudah menikah

“sebenarnya aku juga merasa sepi dan beriba hati mendengarkan itu. Bukan sekedar perihal permasalahan atau nasihat dari sahabat-sahabatku melainkan merasakan mereka sudah menemukan jodohnya sedangkan aku masih sepi dan sendiri”

(Gambar/vk.com)

“sesekali telingaku juga mendengar orang-orang dikantor atau di sekitar pekarangan rumahku bagaimana mereka merawat buah hati mereka dengan suka cita. Mengajarkannya mengeja, melihatnya merangkak, tertawa dan sungguh gemas dan bahagianya mereka saat bicara dan menceritakan kelucuan anak-anak mereka.  

“kali ini untukmu yang bertanya kapan menikah? Maaf, sebenarnya aku tidak membencimu tapi jujur disaat seseorang menginginkan sesuatu dan sesuatu itu belum didapatkannya, lantas ditanya apakah kamu tidak menginginkannya? Maka jujur, Hati dan perasaaanku sedikit tercabik dan terluka. Demikianlah saat kau tanya kapan menikah? Maka catatan pendek ini cukup menjelaskan kenapa aku lebih memilih diam dari pada menjawab pertanyaanmu”.