/Referendum Sumatera Merdeka Atau Riau Merdeka? Kenapa Tidak !

Referendum Sumatera Merdeka Atau Riau Merdeka? Kenapa Tidak !

(Gambar/ekonomi.bisnis.com)

Referendum adalah jejak pendapat suatu wilayah untuk memilih merdeka atau tetap bertahan. Referendum adalah proses panjang dari ketidakpuasan suatu wilayah pada pemerintah dalam memberikan keadilan, pemerataan dan kesejahteraan. Keresahan ini juga memuncak dari kesadaran masyarakat di wilayah tersebut yang melihat negara tidak mengalami perkembangan dari tahun ke tahun dan cendrung foedal karena kebijakan-kebijakan yang tidak tepat tapi tetap difreming setengah mati.

Singapore adalah contoh city states yang merdeka dengan referendum. Demikian pula dengan Bosnia dan Timor Leste nan nun jauh disebelah utara Australia. Ada negara yang menjadi suatu kekuatan baru dibidang pendidikan dan ekonomi. Ada pula negara referendum yang mengalami proses pertumbuhan yang lambat karna menjadi negara baru yang mesti berdiri dikaki sendiri.

Dan perihal konflik di sumatera sudah bergejolak sejak dulu, Sebut saja konflik revolusi sumatera sosial di sumatera utara yang menewaskan sejumlah sultan-sultan melayu di Kesultanan Langkat, Asahan bahkan Karo, Koewaloe, Bilah, Simalungun sampai kota pinang. Tidak sedikit sultan dan keluarga sultan yang tewas dibunuh bahkan permasuri dan putri sultan di perkosa. Persitiwa tersebut sungguh menyayat hati masyarakat sumatera utara. Dan Amir hamzah, sastrawan yang karyanya masih dikenang sampai kini pun tewas ditangan pemberontok yang bahkan datang jauh dari tanah jawa (“) yang di prakasasi oleh (………..) karena sebelumnya ada indikasi bahwa para sultan  sumatera timur enggan bergabung kedalam republik indonesia.

Pergolakan di ujung sumatera, Aceh juga tidak pernah padam bahkan muzakir manaf, Tokoh masyarakat Aceh beberapa waktu yang lalu dengan frontalnya berani mengatakan dimuka pangdam bahwa “Alhamudlillah, kita melihat saat ini, negara kita di Indonesia tak jelas soal keadilan dan demokrasi. Indonesia diambang kehancuran dari sisi apa saja. Itu sebabnya, maaf Pak Pangdam, ke depan Aceh kita minta referendum saja,” yang kemudian disambut riuh dan tepuk tangan oleh penonton. Aceh merasa tidak pernah berjuang dengan bangsa indonesia, mereka menghadapi penjajah dengan tangan dan kaki mereka sendiri sehingga mereka dapat terbebas dari kolonialisme kulit putih dua tahun sebelum indonesia mengproklamirkan kemerdekaan.

(Gambar/inilahonline.com)

Di riau gerakan riau merdeka digagas oleh Tabrani Rab, seorang pejuang, profesor dan budayawan yang tanpa rasa takut terus sampai usia senja memperjuangkan kemerdekaan riau karna selama ini pusat dirasa tidak memberikan keadilan kepada riau padahal riau sangat berkontribusi terhadap republik indonesia melalui minyak bumi dan minyak sawit bahkan sultan siak sri indrapura terakhir memberikan 1 triliun rupiah lebih (dalam kurs rupiah) sebagai modal awal pemerintahan indonesia. Tapi sayang, sang sultan wafat dengan cara menyedihkan. Sakit dan bersusah payah kesani-kemari untuk memperjuangkan hidupnya.

Dan bila kita tatap potensi sumatera yang terbentang panjang sebagai pulau terbesar keenam didunia dengan jumlah penduduk lebih dari 57 juta jiwa serta dengan kekayaan minyak bumi, perkebunan, tambang, pariwisata, hutan dan dengan posisi strategis sumatera di peta dunia maka potensinya menjadi salahsatu kekuatan terbesar didunia adalah suatu keniscayaan. Dan tidak khayal pula sejak dulu sumatera menjadi corong lalulintas dunia bahkan sumatera dulu juga dikenal dengan sebutan Suwarnadwipa, pulau emas.

Rasanya jika kita tatap riau, aceh, sumatera utara dan provinsi-provinsi yang ada di sumatera tidak ada provinsi yang miskin bahkan berpotensi melebihi potensi Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapore. Apatah lagi itu tentang sumatera. Yang secara wilayah, penduduk dan kekayaannya melebihi apa yang dimiliki inggris, Belanda, kanada, korea selatan dan seterusnya.

Dan jika kita bicara tentang dosa untuk merdeka maka kesultanan siak adalah sebuah negara yang memisahkan diri dari warisan kesultanan raja kecik dimalaysia. Demikian pula Arab saudi yang berpisah dengan kerajaan utsmaniyah, Yordania yang membuat negara baru setelah rajanya tergelincir. Qatar, Abu dhabi, Skotlandia, korea selatan dan seterusnya. Namun referendum untuk merdeka itu kerja panjang dan melelahkan. Penuh spirit dan nafas panjang.


(Gambar/riau24.com)

Dan kini riau masih diselimuti jerebu karena kebakaran hutan dan lahan. Katanya itu adalah kebakaran yang dilakukan petani dan didorong oleh sinar mentari. Tapi itu sudah seperti klise karna masyarakat riau merasa itu adalah ulah korporasi yang berkonspirasi dengan penguasa. Dan jika lahannya sudah luas terbakar barulah negara hadir untuk memadamkan api. Naasnya dari kabar yang terdengar lahan yang terbakar dari tahun ketahun itu berganti dengan ladang sawit yang sangat luas dan panjang.

Kini nasib riau, aceh dan sumatera utara tetap dipangkuan republik indonesia. Meskipun penduduk aceh, riau, sumatera utara dan seluruh penduduk disumatera tidak merasakan pendidikan gratis seperti di timur tengah yang kesehatan dan pendidikannya gratis sampai ke jenjang sarjana meski negara kita lebih kaya ketimbang negara mereka.

Di Amerika Serikat membeli rokok mesti memiliki identitas yang menandakan sudah dewasa. Orang tua diberikan tunjangan. Di Qatar cuti kerja setahun boleh lebih dari 20 Hari. Di malaysia penganguran dapat diatasi. Di inggris kebebasan menuntut hak seperti hak referendum di persilahkan. Di  Thailand ekonomi mulai meroket. Abu dhabi tidak tertandingi. Korea utara meskipun menutup diri tapi di segani dunia.

Di indonesia simpang siur kebijakan masih merajalela. Kepahitan hidup semakin terasa. Kesempatan semakin kecil dan sempit. Janji tinggallah janji. Riau masih diselimuti jerebu dan sumatera masih indonesia. Mungkinkah Referendum Sumatera Merdeka Atau Riau Merdeka terus digaungkan. Jika Ia, kenapa tidak. Jika tidak kenpa ia mesti berpisah. Riau dan sumatera masih cinta. Jika kebijakkan dan cara politik pusat berkhidmat dan berkeadilan sosial tentulah bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.