/Dari Mu Kim Ni Ke Murniati Mukhlisin. Dari Gadis Tionghoa yang Kabur, Muallaf Hingga Menjadi Seorang Rektor

Dari Mu Kim Ni Ke Murniati Mukhlisin. Dari Gadis Tionghoa yang Kabur, Muallaf Hingga Menjadi Seorang Rektor

Ada Keresahan
Dibalik sejuta pertanyaan
Ada Kegamangan
Saat Tidak Ada Keharmonisan
Ada Kelebihan
Tetapi Tidak Ada Ketenangan

Mungkihkah Tanda Tanya
Sekedar Tanda?
Saat Koma Menabrak
Titik Adalah Tanda Air Mata
Saat Keyakinan Di Pertaruhkan
Ada Hidayah Yang Mesti Diperjuangkan
Meski Cinta Dan Hormat
Tumbuh Subur Dibawah Atap
Mu Kim Ni Pergi
Untuk Sebuah Tanya
Yang Kini Menjadi
Sebuah Titik Tanpa Koma

Tetapi titik itu terus menitik
dari dua sungai
kesungai ciliwung
dari dua sungai
mengalir kesepanjang sungai Nil
Terus mengalir
Hingga sampai melaut
Menguap kelangit
Berkondensasi
dan berbutir-butir
jatuh kembali kebumi
membasahi bumi eropa dan amerika

(Mu Kim Ni, Gadis Berkerudung Hujan). Selintas Refleksi Penulis Dari Perjanalan Panjang Seorang Gadis Tionghoa

Mu Kim Ni adalah seorang gadis tionghoa yang lahir dan tumbuh disudut terjauh bumi sriwijaya, Sumatera Selatan. Bukan di kota Venice of the East, Venesia dari Timur kata orang barat untuk menyebut kota pelembang. melainkan di Batu Raja, Kabupaten Ogan Komering Ulu. Kabupaten yang dilingkari dua sungai; Sungai Ogan dan Sungai Komering.

Meskipun terpandang dari keluarga saudagar, Mu Kap Chin dan Kang Pau Chu. Orang tua Mu Kim Ni juga dikenal oleh para pedagang dari tanah laskar pelangi, Bangka Belitung. Tidak serta merta membuat Mu Kim Ni mewarisi segala kepercayaan yang dianut oleh kedua orang tuanya.

Ada sebuah tanda tanya yang memerlukan sebuah titik jawaban untuk memasak segala keraguan dari apa yang dipandang, dijalani dan dilewati. ada makna saat kereggangan mencuat dibawah atap rumah yang kokok dengan keharmonisan atap rumah seorang muslim yang berkarat dan berlobang tetapi tetap hangat saat hujan, tetap sejuk saat kemarau.

Ada pula keentengan menjalani kehidupan dengan segudang kewajiban siang malam. pengorbanan dihari raya dan kelaparan dibulan puasa. ada keentengan dibalik segudang kewajiban ada juga segudang beban, berat dan kering dari apa yang dipandang dan disentuh dihalaman rumahnya. Tidak sepakat dengan apa yang dicurahkan pada orangtua, Mu Kim Ni yang berusia belasan tahun itu kabur dari rumah. Berangkat kejakarta dengan sekelumit kehidupan ibukota, Mu Kim Ni menjemput hidayah. meski rasa dan tega meski tertinggal dan tertanggal untuk sementara.

Dijakarta Mu Kim Ni menemukan keluarga angkat bernama Ustazah Qomariah Baladraf Teh Giok Sien di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Tentu penuh lika-liku menemukan dan menjalani kehidupan dengan seseorang yang baru saja dikenalnya. Tidak sampai disana, deru dan derita menjadi seorang muallaf tentu juga penuh airmata saat keyakinan itu memuncak, meninggalkan orang tua adalah suatu pengorbanan yang sedikit sekali berani dilakukan oleh orang-orang.

Mu Kim Ni terus berjuang menjadi seorang muallaf, Tetap mencoba mendekati orangtua dengan mengirim kado dan hadiah. Mu Kim Ni mengubur air mata demi menjadi seorang muslimah yang baik saat rasa dan rindu itu sulit sekali diungkapkan. Rajin mengikuti kajian kepemudaan Islam di Masjid Istiqlal dan di Yayasan H Karim Oei, di Jl Lautze adalah salahsatu caranya.

Sempat bekerja untuk menjadi seorang muslimah yang mandiri Mu Kim Ni melanjutkan pendidikan sarjana ke negeri mahattir mohammad, Jiran, Malaysia di Internasional Islamic University of Malaysia dengan jurusan akuntansi islam. Dalam perjalanan hidup yang penuh suka dan duka, Mu Kim Ni tidak sekedar ingin menjadi seorang muslimah yang baik tetapi juga ingin menjadi seorang intelektual. Ilmu dan Islam tidak bisa dipisahkan. persis seperti kata Buya Hamka; “Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi. Namun ilmu tanpa iman, bagaikan lentera di tangan pencuri”.

Sepulang dari malaysia Mu Kim Ni mengikuti program pascasarjana di Univeristas Indonesia hingga meraih gelar doktoral di University of Glasgow, UK. kini Mu Kim Ni yang lebih dikenal sebagai Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, Rektor Institut Tazkia.

Tidak terbayangkan betapa kokohnya hati seorang perempuan tionghoa yang kini juga menjadi seorang pakar ekonomi islam, menjadi kontributor dijurnal internasional. menulis buku, Berjibaku dengan sekelumit penelitian hingga menjadi pembicara dikota-kota di Indonesia, Uni Eropa, Amerika Serikat, Timur Tengah, Jepang, Australia, Melayu serumpun; Malaysia, Brunei Darussalam dan seterusnya.

Mu Kim Ni, Gadis Berkerudung Hujan itu tidak saja sudah menjadi hidayah untuk dirinya sendiri, keluarganya tetapi juga untuk dunia islam dibidang ekonomi. lebih dari itu semangat hidup, ilmu dan iman yang senantiasa direpetisi agar kata redup dapat disingkirkan dengan kata berbagi untuk persembahan pada umat manusia. Sekian dan salam untuk Gadis Berkerudung Hujan beserta keluarga. semoga sehat, bahagia dan sukses selalu.